Him



            Gadis itu menopang dagu dengan kedua telapak tangannya. Memandang lurus langit biru. ‘Ini tak akan lama. Tak akan lama. Aku akan pulang, chagiya’. Gadis itu beranjak dan kembali ke mansion kecilnya ditengah kota Paris.
            Gadis itu merebahkan tubuhnya diatas single-bed dan berusaha untuk menutup matanya dan menemui mimpi indah yang tengah menunggunya sebelum getaran yang ditimbulkan dari handphone yang mewururungkan niatnya. Sesegera mungkin gadis itu mengambil benda kecil berbentuk persegi panjang itu lalu tersenyum lebar. Diletakkannya lagi benda itu di meja dan melancarkan rencana awalnya.
***

            Suara heels yang berbenturan dengan ubin terdengar begitu jelas. Berulang kali diliriknya jam tangan berwarna putih yang melingkar manis di pergelangan. Gelisah terlukis jelas di wajah gadis itu. ‘Aku terlambat’. Gadis itu berlari terburu menuju airport, mengejar penerbangannya. Penerbangan yang ia nantikan untuk menemui kota tempatnya dibesarkan. Busan, South Korea.
            Dengan nafas tersenggal, gadis itu duduk di dekat jendela pesawat. Gadis itu kembali tersenyum sembari melihat keluar jendela. ‘Aku pulang’. Diambilnya mp3 player dari saku jaketnya, mengenakannya dan dimulai dengan lagu dari My Name – Hello and Goodbye dan perlahan terlelap.
***
            Gadis itu tersenyum lebar seraya kakinya melangkah menyusuri jalanan kota Busan. Dibayangkannya terus apa yang akan dia lakukan setelah ini. Pastinya, dengan ‘dia’.
            “Hani-ah!” Suara lelaki dewasa yang terdengar sangat tak asing ditelinga gadis itu menyapanya. “Ooo… Kau tampak seperti perempuan sekarang”. Ucap lelaki itu lagi sembari memeluk tubuh mungil gadis di depannya.
            “Aish… Hoya oppa! Jadi, selama ini aku bukan seorang perempuan begitu, huh?!”, balas kesal Hani dan memukul pelan lengan kakak lelakinya gemas.
            “Hahaha… Kau adalah yeodongsaeng-ku yang paling manis! Kajja, eomma dan appa menunggu di dalam. Kami sangat merindukanmu, Hani-ah”. Gadis itupun memasuki rumah masa kecilnya dengan tangan Hoya melingkar pada pundak Hani.
            Melepaskan rasa rindu, itu yang dilakukannya saat ini. Memeluk satu persatu anggota keluarga dan sahabat-sahabatnya, berbincang dengan mereka dan menceritakan bagaimana kisahnya disana. Semuanya terasa sangat lengkap disini, sangat berbeda dengan kehidupannya di Paris. Walaupun gadis ini seorang designer yang terhitung sukses, gadis ini tidak merasakan  kebahagiaan yang teramat sangat. Tanpa mereka –keluarga dan orang terdekatnya- Hani tidak akan merasakan kehangatan yang dirasakannya saat ini. Hani  kembali tersenyum lebar. Namun seketika senyuman indahnya menghilang. ‘Dia’ tidak ada disini. Dicarinya keseluruh sudut rumah, namun hasilnya nihil. ‘Mungkin dia masih di jalan’ batin gadis itu dan mulai memasuki kamarnya.
***
            Sinar mentari membelai wajahnya, membuatnya terbangun dari tidur. Gadis itu merenggangkan tubuhnya dan dentingan indah piano membuatnya segera mengambil handphone dari meja kecil di samping ranjang. Hani kembali tersenyum melihat nama penelepon yang tertera di layar benda itu. Diletakkannya benda itu dekat telinga…
“Yeoboseyo…”, dengan suara serak khas bangun tidur Hani menjawab telepon itu.
“Chagiya… kau sibuk hari ini?” Balas suara lelaki dari seberang.
“Aniya. Waeyo, Kris?”
“Kau sudah di Busan kan? Ku jemput ya? Kita jalan-jalan ke Jeju Island, bagaimana? Kujemput sekitar 30 menit lagi.”
“Ne, Kris” Tak ada yang menjawabnya setelah itu. Hanya suara deru nafas yang terdengar disambungan telepon tersebut.
“Hani-ah?”
“Hmm”
“Saranghaeyo…”. Belum sempat gadis itu menjawabnya sambungan telepon telah terputus. Gadis itu hanya tersenyum memandangi layar handphone-nya yang kembali menunjukkan fotonya dengan Kris –kekasihnya- yang tengah tersenyum memandangi kamera. Diletakkannya benda itu ketempat semula dan beranjak menuju kamar mandi.
            Aroma roti panggang dan telur goreng memanjakan indra penciuman gadis itu. Segera gadis itu menghampiri dapur  dan menemukan sesosok lelaki tengah meletakkan telur dadar diatas rotinya.
            “Rapi sekali kau pagi-pagi, mau kemana?”
            “Kencan…”. Jawab Hani singkat dengan senyuman khas menempel diwajahnya.
            “Dengan? Cepat sekali kau cari pengganti.”, tanya Hoya.
            “Kau lupa? Tentu saja Kris, oppa”
            “Kris? Tap- “
            “Sebentar lagi dia datang. Aku di teras. Annyeong”. Memotong kalimat Hoya, Hani melangkahkan kakinya ke teras. Menunggu kekasihnya datang.
            5 menit sudah Kris tak datang tepat seperti yang dijanjikannya. Hani melirik jam coklat dipergelangan tangannya dan kembali melihat jalanan aspal. Memperhatikan beberapa pejalan kaki melewati depan rumahnya. Tak segan-segan Hani membalas sapaan para tetangganya yang lewat.
            15 menit…
            30 menit…
            3 jam…
            Hani mulai jenuh dan beranjak meninggalkan tempat duduknya semula menuju ruang tamu rumahnya. Didudukkan tubuhnya sembari meniupkan poninya hingga sedikit berantakan. Hela nafas berat dihembuskannya.
            “Waeyo?”. Tanya eomma Hani yang tengah menonton drama favoritnya.
            “Kris… Dia tidak datang menjemputku. Dia bilang dia ingin mengajakku jalan-jalan ke Jeju Island. Tapi, dia tidak datang” Gadis itu mengerucutkan bibirnya serta melipat tangannya didepan dada. Kesal.
            “Kris? Tapi, Hani-“
            “Yaa, mungkin Kris sedang sibuk dengan jadwal kerjanya. Ya sudah. Jika ada yang mencariku, aku dikamar…”. Gadis itu beranjak dari duduknya dan memasuki kamarnya. Lagi-lagi memotong pembicaraan.
***
To: Hani
Temui aku pukul 8PM di depan rumahmu. Aku akan kesana. Gunakan mantel berwarna coklat susu dariku. Aku suka melihatmu dengan mantel itu… ^^
From: My Dragon ^^
~
To: Kris
Jangan tak datang lagi… Saranghaeyo #hug
From: Sweetheart
            Seperti apa yang dituliskan, Kris menepati janjinya dan menemui Hani dengan mantel coklat susu yang dimintanya untuk dikenakan oleh gadis dalam pelukan hangatnya kini. Malam ini memang terasa begitu dingin. Ditautkan jari jemari mereka dan berjalan dalam kehangatan yang dibuat oleh kedekatan mereka. Langkah kaki mereka membawa mereka pada taman bermain yang sering mereka kunjungi. Menghabiskan waktu bersama layaknya anak kecil. Berlarian, saling tangkap, tertawa, bekejaran, tertawa lagi. Lelah. Mereka dudukkan tubuh mereka diatas ayunan dan meyayunkan pelan tubuh mereka, terhempas pelan belaian lembut angin malam.
            “Chagiya…”
            Gadis itu menolehkan kepalanya untuk menemui sosok lelaki yang tengah beranjak dari duduknya dan kini berada di belakang punggungnya. Menyentuh lembut pundak gadis itu dan mulai merengkuh tubuh gadis itu perlahan. Diayunkan tubuh mereka berdua kekanan dan kekiri seirama dengan lantunan music yang keluar dari bibir Hani. Kecupan hangat didaratkan dipipi gadisnya. Gadisnyapun tersenyum, dan naik keatas bangku ayunan tersebut. Menggenggam erat kedua rantai disampingnya. Menatap Kris dan mengajaknya untuk melakukan hal yang sama. Dan mereka berduapun mulai mengayunkan tubuh mereka dan kembali tertawa. Layaknya salah satu adegan ‘Titanic’, Hani berdiri didepan Kris yang tengah memegangi pinggang Hani dan Hani menggenggam erat rantai disampingnya.
            “Kris?”. Ayunanpun makin melambat dan pada akhirnya berhenti bergerak.
            “Hmmm?”. Jawab lelaki dibelakangnya dengan dagu lelaki itu dipundaknya.
            “Aku rindu saat-saat seperti ini”. Seketika sesuatu menyentuh lembut bibir Hani. Dipejamkannya mata mereka, merindukan hal seperti ini kembali terjadi.
            Pukul 9PM ditunjukkan jam tangan Kris. Merekapun beranjak dari tempat awal mereka dan menyusuri jalanan kota Busan untuk mengunjungi café yang sering mereka datangi. Percakapan kembali terjadi diantara acara makan malam ringan mereka. Mereka tak lupa mengunjungi beberapa tempat yang sudah menjadi langganan kehadiran mereka.
            Tengah malampun datang. Dua sejoli itu berjalan beriringan dengan secangkir coklat panas ditangan keduanya. Disesapnya perlahan coklat itu hingga tak terasa perjalanan mereka terhenti didepan rumah sang gadis.
            “Maaf tak bisa mengajakmu ke Jeju Island”, sesal lelaki jangkung itu sembari menggenggam tangan gadisnya.
            Hani hanya tersenyum mendengar perkataan lelaki didepannya. “Gwaenchanayo. Ini lebih baik dari Jeju Island. Tapi, jika kau mengajakku ke Jeju Island mungkin akan sangat lebih baik dari ini. Hehe”. Jawab polos gadis mungil itu. Cubitan gemas mendarat dipipi gadis itu dan tawa kembali terdengar.
            “Hmm… Kris, mungki-“
            “Panggil aku ‘Kris oppa’ kali ini”
            Gadis itu memutar kedua bola matanya, dan berakhir dengan senyuman. “OK… Kris oppa… Mungkin besok hari terakhir aku di Busan setelah itu aku akan kembali ke Paris. Pekerjaan memanggilku”
            Ekspresi Kris-pun berubah menjadi lesu. Helaan nafas berat keluar dari bibir lelaki itu. “Kenapa harus di Paris? Tidak bisa pindah ke Korea ya?”
            “Tentu tidak. Ada-ada saja. Mungkin bisa, namun sulit. Perusahaanku terlalu terikat. Huft…” wajah gadis itupun ikut lesu menyadari kenyataan. Senyumpun kembali merekah dibibir gadis itu. Dikeluarkannya handphone dari saku mantelnya. Diangkatnya benda berbentuk persegi panjang itu dengan punggung benda itu menghadap mereka.
            “Gunakan aegyo-mu kali ini. Aku rindu dengan hal yang satu itu”. Hani hanya memandang Kris kaget. Tidak biasanya. “Ini perintah”. Hani menghela nafas pelan dan mengikuti apa yang diminta lelaki disampingnya.
            Lambaian tangan memisahkan pertemuan mereka. Hani memasuki rumahnya dan menemukan eomma dan Hoya tengah duduk diruang tamu rumah mereka. Ekpresi khawatir terlukis jelas diwajah keduanya.
            “Dari mana kau larut malam baru pulang?”, tanya eomma Hani.
            “Kencan?”, jawab Hani. Takut.
            “Dengan siapa kali ini?”, kali ini Hoya yang menanyakannya. Baru gadis itu hendak menjawabnya, Hoya sudah tahu jawabannya. “Kris? Hani-ah… sadarlah…”
            “Tapi memang Kris. Apa yang harus aku sadari, oppa?”
            “Hani-ah, anakku. Terima saja apa yang sudah terjadi… Kris su-“
            “Aniya!! Kris masih ada! Kris masih hidup! Kita baru saja berfoto didepan rumah! Eomma, oppa, kalian tidak percaya denganku?”. Sesegera mungkin Hani mengeluarkan ponselnya dari saku mantelnya dan menunjukkan foto yang baru saja diambilnya tadi. “Ini! Eomma, oppa, coba lihat! Itu Kris! Yang tersenyum disebelahku itu Kris! Lihatlah dengan seksama”
            Diberikannya ponsel gadis itu kepada kedua orang yang tengah berdiri didepannya yang menundukkan kepala mereka. Diambilnya ponsel gadis itu dan mereka berdua menuruti keinginan Hani. Perlahan air mata mengalir dipipi ibu Hani. Ibu Hani meninggalkan tempatnya dan memasuki kamarnya. Membanting daun pintunya.
            Hani yang terdiam melihat tingkah ibunya kembali menoleh ke arah kakaknya yang tertunduk. Menginginkan jawaban yang diinginkannya. Hoya hanya menggelengkan kepalanya. Sedikit demi sedikit aliran sungai kecil terbentuk dipipinya. Hani berjalan, setengah berlari kearah kakaknya. Merenggut ponselnya dari tangan Hoya. Memperhatikan satu demi satu foto mereka berdua yang baru saja diambil hari ini.
            “Tidak, tidak, tidak. Semuanya… semuanya…”. Hani mendudukkan tubuhnya disofa, memeluk kedua lututya, dan kembali memperhatikan foto-foto yang telah dilihatnya. Berharap apa yang dilihatnya tidak benar.
            “Hani-ah… lupakan  dia. Dia sudah pergi, Hani-ah. Kris sudah meninggal 3 bulan lalu. Aku tidak ingin kau menjadi seperti ini. Kumohon, jalani hidupmu. Tanpa dia kali ini”. Hoya menepuk pundak Hani beberapa kali dan meninggalkannya sendirian. Membiarkannya berfikir sejenak.
            “Kris… Kau… aku tahu, kamu belum meninggal. Kris, jawab teleponku. Kumohon. Katakan pada mereka jika mereka tidak benar. Kris, kumohon. Angkat teleponku!”.
            “maaf nomor yang anda tuju sudah tidak aktif-“

Fin~

Komentar

Postingan Populer